NUSANTARAUPDATE.WEB.ID - Lampung. Hubungan antara Jerman dan Amerika Serikat kembali menjadi sorotan setelah Presiden Jerman melontarkan kritik tajam terhadap mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam pernyataannya, Presiden Jerman menilai kebijakan Trump selama menjabat telah merusak tatanan dunia internasional yang selama puluhan tahun menjadi fondasi stabilitas global. Kritik tersebut sekaligus menandai perubahan sikap Berlin yang kini mulai menjaga jarak dan mengurangi ketergantungan strategis terhadap Washington.
Menurut Presiden Jerman, pendekatan “America First” yang diusung Trump telah menggerus prinsip-prinsip dasar kerja sama internasional. Kebijakan luar negeri AS di bawah Trump dinilai terlalu berorientasi pada kepentingan domestik sempit, mengabaikan peran aliansi, serta melemahkan kepercayaan antarnegara. Akibatnya, tatanan dunia berbasis aturan (rules-based international order) yang selama ini dijaga bersama oleh negara-negara Barat mengalami tekanan serius.
Jerman menyoroti langkah Trump yang menarik Amerika Serikat dari berbagai perjanjian internasional penting, termasuk kesepakatan iklim Paris dan perjanjian nuklir Iran. Selain itu, Trump juga kerap melontarkan kritik terhadap NATO dan mempertanyakan kontribusi negara-negara Eropa dalam aliansi tersebut. Sikap ini dinilai telah menimbulkan ketidakpastian dalam bidang keamanan global dan merusak solidaritas transatlantik yang selama ini menjadi pilar utama pertahanan Eropa.
Presiden Jerman menegaskan bahwa tatanan dunia modern tidak dapat bertahan tanpa komitmen terhadap multilateralisme, dialog, dan penghormatan terhadap hukum internasional. Ketika negara sebesar Amerika Serikat memilih bertindak sepihak, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh sekutu dekat, tetapi juga oleh stabilitas global secara keseluruhan. “Kepemimpinan global menuntut tanggung jawab, bukan hanya kekuatan,” menjadi pesan yang tersirat dalam kritik tersebut.
Pernyataan ini mencerminkan perubahan pandangan strategis Jerman yang semakin realistis terhadap dinamika politik di Amerika Serikat. Berlin kini menyadari bahwa perubahan kepemimpinan di Washington dapat secara drastis mengubah arah kebijakan luar negeri AS. Oleh karena itu, Jerman bersama negara-negara Uni Eropa lainnya mulai mendorong konsep otonomi strategis Eropa.
Upaya tersebut terlihat dari meningkatnya kerja sama pertahanan antarnegara Eropa, penguatan industri militer regional, serta kebijakan energi yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada pihak luar. Di bidang diplomasi, Jerman juga aktif membangun hubungan yang lebih seimbang dengan negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin sebagai bagian dari strategi diversifikasi mitra global.
Meski demikian, Presiden Jerman menekankan bahwa kritik terhadap Trump tidak berarti penolakan total terhadap Amerika Serikat. AS tetap dipandang sebagai mitra penting, baik dalam bidang ekonomi, keamanan, maupun nilai-nilai demokrasi. Namun, Berlin menilai hubungan tersebut harus dibangun atas dasar saling menghormati dan kepastian jangka panjang, bukan bergantung pada figur politik tertentu.
Pengamat hubungan internasional menilai pernyataan Presiden Jerman ini sebagai sinyal kuat bahwa Eropa sedang memasuki babak baru dalam geopolitik global. Jika Trump atau tokoh dengan pandangan serupa kembali memegang kekuasaan di AS, kecenderungan Eropa untuk berdiri lebih mandiri diperkirakan akan semakin menguat. Hal ini dapat mengubah keseimbangan kekuatan global dan mengurangi dominasi tradisional Amerika Serikat di kawasan Eropa.
Di sisi lain, kritik ini juga menjadi peringatan bahwa tatanan dunia liberal yang selama ini dianggap stabil ternyata sangat rentan terhadap perubahan politik domestik negara-negara besar. Ke depan, Jerman dan Uni Eropa dihadapkan pada tantangan untuk menjaga nilai-nilai demokrasi dan kerja sama internasional di tengah meningkatnya populisme dan nasionalisme global.
Dengan situasi geopolitik yang terus berubah, arah hubungan Jerman-AS kini sangat bergantung pada perkembangan politik di Washington. Bagi Berlin, pelajaran dari era Trump cukup jelas: Eropa harus siap menjaga kepentingannya sendiri, bahkan ketika sekutu terdekatnya tidak lagi dapat diandalkan sepenuhnya.
Posting Komentar